SPORT & LIFESTYLE

Kudeta Paradigma Rakyat 2 “Sensor Kesadaran”

Penulis : Tim Posting News

Cerpen (PNews) – Bang Nasir duduk sendiri di Depan Rumahnya sambil menyeruput segelas Kopi dan membolak balikan halam Buku yang berjudul, Dewa Ekonomi Global. Selang beberapa menit kemudian, Juang dan Ronal mendatanginya. Saling menyalami terjadi di Depan Rumah yang ditanami tanaman untuk keperluan dapur, Bang Nasir sengaja menanamnya karena, menurutnya ini lebih hemat jika harus bolak balik setiap hari ke pasar.

Baca Juga https://postingnews.id/index.php/2019/05/27/kudeta-paradigma-rakyat/

  “Silahakan duduk,” pinta Bang Nasir kepada kawannya sambil merapikan yang ada diatas meja.

“Maaf Bang jika menggangu, saya bersama Juang ingin update pengetahuan atau informasi tentang apa saja.” Cetus Juang dengan mengambil tempat duduk disamping Bang Nasir.

“Saya ini, bukan Guru atau Dosen yang harus mengajarkan banyak hal kepada kalian, lebih baik kita diskusi saja sambil tukar informasi tentang hal bermanfat, tapi sebentar agar lebih lengkap diskusi saya minta dibuatkan kopi dulu,” ucap Bang Nasir sambil menganjurkan Istrinya untuk menyeduhkan kopi.

Tidak lama kemudian, Istri Bang Nasir keluar membawa dua gelas kopi yang telah diaduk bersama gula. Sambil bergurau, Istrinya menyampaian banyaknya informasi, ada yang belum tentu benar atau hoax. Sebelumnya, ia sempat mendengar diperbincangkan sahabat suaminya itu.

“Nah benar pernyataan istriku ini, tapi lebih enak kopinya! Coba kalian nikmati dulu,” ungkap Bang Nasir sambil mempersilahkan mereka untuk menikmati Kopi. Setelah itu, istrinya pun langsung kembali melanjutkan pekerjaannya di Dapur.

Diskusi pun mulai mengalir, Bang Nasir berkata informasi dan pengetahuan tidak akan bermanfaat jika yang menerimanya tidak punya kesadaran.

“Nah!! Apa itu kesadaran?” Pertanyaan Ronal langsung menjadikan suasana hening sementara waktu, karena tidak dijawab, seolah kata tanya itu membimbing mereka ke Ruang pertanyaan berikutnya, bagaimana keadaan diri kita saat sadar?, Mengapa manusia dikatakan memiliki kesadaran? dan apakah benda bergerak seperti robot memiliki kesadaran?

Para ahli lintas zaman telah mencari makna kesadaran karena, ketika manusia sadar maka dia bisa dikatakan manusia hampir sempurna.

“Berarti sekarang manusia bergerak seperti robot ya Bang?” sahut Juang penasaran.

“Kesadaran kita seperti robot yang di kendalikan oleh orang lain?” tambah Ronal  yang mulai bingung.

 “kayaknya kesadaran kita ini dikaburkan (Sensor)” Juang mempertegas pernyataannya sebelumnya.

Realita di sekitar kita, kesadaran muncul karena sebuah informasi yang kita ketahui. Salah satunya tentang fungsi telpon genggam (Handpone) yang beredar memalui iklan televisi yang hanya bisa memotret objek namun, kenyataannya lebih dari itu bisa dijadikan alat usaha seperti jual beli online.

Namun. Disisi lain handpone dapat digunakan untuk tindakan penipuan, pemerkosaan dan kejahatan krimininal lainnya. Dengan demikian informasi yang berbeda, tergantung cara memanfaatkannya dan mendapatkannya serta muaranya itu, negatif atau positif, jelas Bang Nasir.

 “Lalu Bagaimana yang tidak tahu bang?” Ronal seperti ingin menuntaskan diskusi ini secepat infromasi saat ini. Mereka akan menjadi korban karena ketidaksadaran tersebut, “tegas Bang Nasir”.

Mereka tidak sadar atau disadarkan!” Ronal sambil menatap tajam Bang Nasir, ya Begitulah  “tutur Bang Nasir” .

Lalu Bagaimana dengan kesadaran yang dikendalikan Bang? “tanya juang” Pengendalian kesadaran manusia secara logika dapat dilakukan dengan dua hal misalnya; mengontrol informasi atau mengaburkan informasi (sensor) “terang Bang Nasir”

Selanjutnya, ada tiga hal yang mempengaruhi kesadaran dan masyarakat bertindak melalui skema itu seperti , cara berpikir, informasi yang beredar, kebiasaan, kultur dan pengetahuan.

Adapun pendekatan untuk mengetahui tingkat kesadaran manusia sangat berbeda : Pertama, yang paling rendah tidak sadar melakukan sesuatu dan tidak ingin mengetahuinya. Kedua, yang sadar tetapi tidak melakukan sesuatu yang diketahuinya. Ketiga, sadar melakukan sesuatu yang diketahuinya.

“Berarti robot itu tidak sadar tapi siap melaksanakan informasi (perintah)” Juang mulai ingin menyimpulkan.

“mmmmm, saya baru sadar penguasa memiliki station Tv (Media)” Ronal pun bergumam.

Nah kita harus tahu positif atau negatif peran media sekarang,  Juang seperti tak sabar melanjutkan penjelasan dari Bang Nasir, bagaimana mengetahui informasi positif dan negative “bertanya sambil menikmati rokoknya”.

Kita harusnya merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Seperti halnya firman Allah SWT dalam Surat IQra yang menyatakan, bacalah, bacalah, bacalah dengan nama Tuhanmu. Pemahaman ini kita dianjurkan membaca bukan sekedar membaca buku tapi apa yang ada dilingkungan kita, apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita dengar. Setelah itu kita pahami mana dengan nama Tuhanmu dan kemudian mana yang bukan atas nama Tuhanmu.

Kemudian Bang Nasir mengajak untuk mengamati informasi, melalui media pemberitaan seperti televise, Koran, media online dan lainnya. Contoh kasus saat memberitakan kasus korupsi di Indonesia sekarang ini, disampaikan ke publik (masyarakat) melalui media TV dan Koran sepertinya belum mampu menyadarkan rakyat. Ironisnya, hampir semua infromasi korupsi tidak menjelaskan sisi kerugian Negara hanya Kerugian uang Negara akibat ulah koruptor tersebut.

Sebetulnya, Bang Nasir meyakini informasi kita terima informasi dengan sadar, namun telah dikaburkan (Sensor) karena tindakan itu bukan hanya merugikan uang negara tetapi juga rakyatnya. Para ahli mengemukanan tindakan korupsi bagian dari menghambat kemakmuran rakyat dan menciptakan kemiskinan di Indonesia.

Uang Negara (APBD, APBN, Pendapatan Non Pajak) sebagian besar dikumpulkan dari jerih payah rakyat. Kemudian pemerintah mengembalikan ke rakyat dalam bentuk program kegiatan seperti; pembangunan jalan, sekolah gedung pemerintahan, pasar, bantuan  kemiskininan, pertanian, peternakan, nelayan dan masih banyak lagi.

 “Bagaimana itu uang rakyat dan uang Negara?”  Ronal ingin mengatahui lebih detil

“Uang negara itu sumbernya dari uang rakyat” jawab Bang Nasir.

Dirinya pun mengibaratkan, harga rokok sebungkus itu sudah dengan pajak penghasilan yang masuk ke Kas Negara.

Contohnya setiap orang membeli sebungkus rokok Rp 20.000 maka telah memberikan pajak penghasilan sekian persen. Bila pajak penghasilan dua ratus rupiah saja dan dikalikan 20 juta perokok di Indonesia maka, 200 x 20 juta hasil sekitar Milyaran rupiah serta, kebutuhan kita yang lainnya seperti pakaian, garam dan masih banyak lagi, itu dibeli dan otomatis kita telah menyumbang ke Negara.

Oh begitu ya, berarti bupati, PNS, Lurah dan seluruh aparat pemerintah di gaji oleh rakyat?” tegas Ronal

Sudah digaji rakyat, ada saja diantara mereka yang merampok uang rakyat “Koruptor”, keluh Ronal, sambil merasa sedih mengingat banyak pemberitaan tentang kasus korupsi di Indonesia namun sepertinya diulas sama hal selebriti.

“Sebentar ini sudah siang, kita kebelakang dulu”Bang Nasir, sejenak mencelah diskusi, kemudian mengajak mereka untuk memancing ikan dikolamnya.

Sambil berdiri Bang Nasir menyatakan, tidak ada gunanya sama sekali kalau kita tidak bertindak dan tergolong sadar tapi tidak melakukan apa yang kita ketahui, ibarat pengkhianat Negara pada  zaman penjajahan menjadi mata mata belanda.

Mereka pun langsung bergegas menuju kolam milik Bang Nasir untuk makan siang. (*PNews)

Bersambung….

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close